stifler's Blog



Dilema

Dilema pertama: Anda adalah pengawas stasiun dan berada di ruang kontrol, tiba2 anda lihat ada kereta api tidak terjadwal datang dengan cepat, di jalur kereta tersebut, ada 5 orang, kalau anda biarkan 5 orang pasti akan mati tertabrak, tapi kalau anda pindahkan switch jalur kereta, maka kereta akan pinda ril, dan hanya ada 1 orang disana yang akan meninggal. Apakah anda pindahkan jalur kereta?

Dilema kedua: Ada 5 orang butuh organ tubuh yang berbeda2, dan kalau tidak bisa mendapatkan dalam 2 hari, maka kelimanya akan meninggal. Tiba2 ada seorang pengemis mabuk yang pingsan dan dibawa kerumah sakit anda, dan organnya dapat menyelamatnya 5 nyawa, tapi pengemis ini akan meninggal dunia. Akankah anda lakukan operasi penyelamatan 5 nyawa, atau anda biarkan 5 orang itu meninggal saja?

Dalam riset ini dianggap keputusan anda tidak melanggar hukum, dan anda dibebebaskan dari segala tuntutan hukum apapun. Tetapi anda tidak dilepas dari pemikiran moral dan etika.
Dari riset di dapat bahwa pada kasus pertama lebih banyak orang setuju untuk memindah jalur kereta api. Menyelamatkan nyawa 5 orang lebih baik daripada membiarkan orang 5 meninggal. Walaupun harus mengorbankan satu orang. Maka lebih bayak yang setuju untuk memilih memindah jalur kereta.

Pada kasus kedua, lebih banyak orang tidak setuju “membunuh” satu orang, walaupun pengemis (apalagi kalau teman atau keluarga anda!), padahal itu akan mampu menyelamatkan 5 nyawa dengan pasti. Tentu kita bisa menambah kompleksitas masalah dengan mengatakan dari 5 orang itu ada seorang penting, atau family. Secara umum orang2 lebih banyak yang tidak setuju untuk mengorbankan nyawa orang lain.

Padahal hal diatas adalah hal yang mirip satu dengan lainnya. Tetapi kita menjadi sensitive karena kita diminta melakukan sebuah keputusan moral dan etika yang sulit.

Kehidupan ini jarang hitam dan putih, sering banyak warna ke abu2an yang tidak mudah dita putuskan dalam hidup ini. Dan sering2 perasaan punya pengaruh besar walaupun secara rasional kita akan mudah memutuskan ia atau tidaknya. Dalam kedua kasus, jelas 1 versus 5 nyawa. Tapi banyak orang akan “membiarkan saja”, karena mereka bingung akan pilihan tindakan yang tepat dan benar. Padahal jelas membiarkan membuat kita menjadi memilih pilihan kedua.

Dalam keputusan yangs sulit, kebanyakan orang akan berusaha “lari” dari pilihan. Sehingga keluarlah jawaban sebaiknya diselamatkan semua, dengan segala macam kemungkinan yan ada. Hasilnya kita sering menunda keputusan kita. Dan lebih buruk lagi sering kita menjadi “membiarkan” hal yang lebih buruk terjadi karena kita tidak dapat mengambil keputusan dengan tegas dan cepat.

Untuk persoalan yang sama dengan alternatif yang sama pun, penyajian pun menjadikan pilihan menjadi berbeda? Tversky dan Kahneman pada 1981 melakukan percobaan yang disebut “Asian Desease” (saya rubah menjadi penyakit di Afrika pada wall FB saya)

Ada penyakit menular yang epidemik di sebuah dusun kecil di Asia, 600 orang terjangkit. Hanya ada 2 alternatip: Bila dipakai Program A, pasti akan selamat 200 orang. Bila dengan program B, ada 1/3 (33.33%) kemungkinan akan selamat semua, dan ada 2/3 (66.66%) kemungkinan akan meninggal semua. Pertanyaan ini ditanyakan pada sekelompok orang untuk memilih program A atau B.

Hasil riset menunjukkan 72% orang memilih A, sebuah kepastian akan selamatnya 200 orang, yang dianggap lebih baik dari pada ketidak pastian pada Program B.

Anehnya, ketika pada kelompok orang yang berbeda ditanyakan hal ini dalam bentuk yang berbeda:
Ada penyakit menular yang epidemik di sebuah dusun kecil di Asia, 600 orang terjangkit. Hanya ada 2 alternatip: Program C, 400 orang pasti akan meninggal, atau Program D, 1/3 kemungkinan semua tidak ada yang meninggal, 2/3 kemungkinan akan meninggal semua. Mana yang anda pilih?

Ternyata hal yang isinya persis sama, mempunya hasil yang menarik, sekarang 78% orang memilih D. Bukankah A sama dengan C, dan B sama dengan D? Mengapa orang menjadi lebih berani “beresiko” pada D? Penyajian pasti gagal pada C membuat D lebih menarik, sedangkan kepastian pasti Sukses pada A lebih disukai daripada ketidak pastian B.

Decision under uncertainities, keputusan pada saat tidak pasti, selalu terjepak pada bias bias yang secara logika terasa aneh, tetapi pemahaman akan membuat kita mengerti, dan bahkan mampu memanfaatkannya untuk kepentingan kita.

taken from : http://tanadisantoso.com/v50/BusinessWisdom/index.php?act=detail&wid=283


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: